|
Ditulis Oleh fritz
|
|
Minggu, 03 Agustus 2008 |
 Merujuk ke sebuah blog yang [kembali] mengadakan lomba postingan [www.lagaligo.net] membuat saya begitu antusias untuk berpartisipasi di “event” tersebut, karena tema yang di angkat oleh lagaligo begitu “menakjubkan” yakni KOSTES PEDULI BUDAYA NUSANTARA ... sungguh sebuah ajakan yang mulia mengingat kondisi kebudayaan tiap-tiap daerah kita yang [maaf] belum terlalu terpublish melalui media untuk di ketahui oleh masyarakan indonesia [bahkan dunia] secara universal. dan dengan adanya lomba kali ini, semoga kekayaan budaya nusantara yang kita miliki bisa di akses [dibaca/diketahui] oleh semua individu lewat media internet. dan untuk lomba postingan ini, saya mencoba mengangkat salah satu kebudayaan [budaya tari] yang berasal dari daerah saya sendiri [Kabupaten Poso "pamona" - Kabupaten Morowali "mori"] yaitu Dero/Modero. Dero atau yang sering di sebut juga Modero merupakan sebuah tarian yang membuat rasa persahabatan, kekerabatan dan kedamaian semakin lekat. Saya pribadi sebagai individu asli dari sumber tarian tersebut sampai saat ini hanya mengerti struktur dan arti dari tarian ini yakni persahabatan-kekerabatan-kedamaian, kesimpulan itu saya tarik sendiri berdasarkan apa yang saya lihat dan dengar dari pembicaraan orang disekitar saya, karena referensi mengenai budaya tersebut masih minim bahkan sangat jarang saya temukan, tetapi saya yakin di dalam tarian tersebut ada sebuah arti yang sangat sakral bagi orang-orang di tempat asal budaya Dero/Modero. sungguh sebuah ironi bagi saya pribadi karena tidak paham lebih dalam mengenai budaya sendiri yang notabene hidup dan besar di lingkaran itu. Apakah ini sebuah tanda bahwa “anak muda” sekarang lupa akan budayanya sendiri??… jika pertanyaan itu di ajukan kepada saya, tentunya saya akan menjawab dengan lantang “TIDAK”… banyak alasan [yang tentunya masuk akal] untuk menyanggah tuduhan seperti itu. lupa dengan budaya sendiri tidak bisa di ukur dari sisi seperti itu, asalkan kita sebagai asli daerah bisa mengerti setidaknya arti dari sebuah budaya walaupun definisinya tidak harus sedetail seperti dimana budaya tersebut muncul pertama kalinya, dan yang terpenting kita bisa menerjamahkan budaya tersebut berdasarkan pola kita dan sesuai dengan makna sesungguhnya yang terkandung didalamnya. Count:Dero/Modero adalah tarian dengan formasi melingkar yang diikuti ratusan orang, dikenal masyarakat Poso-Morowali, Sulawesi Tengah [Sulteng], sebagai tarian perdamaian. peserta tari tersebut juga saling berpegangan tangan yang menandakan rasa persatuan dan persahabatan, meski sebelumnya tidak saling mengenal. Dero biasanya dilakukan pada malam hari, seusai warga menghadiri acara pesta pernikahan, pesta panen [Padungku] atau acara lainnya. Bahkan hingga menjelang matahari terbit, Dero masih tetap berlanjut. tarian itu biasanya diiringi musik organ tunggal [sekarang, - dulunya memakai gong kecil] dengan dua penyanyi. Penyanyinya umumnya juga melantunkan lagu berbahasa daerah atau lagu populer lainnya dengan iringan irama agak cepat. tempo lagu yang agak cepat membuat penari Dero lebih bersemangat, bergoyang sambil berputar searah jarum jam atau sebaliknya. Dalam situasi normal, dero dipentaskan malam hari, usai acara pesta pernikahan, pesta panen [Padungku] atau acara lainnya. Sering pula dero digelar sampai pagi dengan penuh suka cita. lupa waktu tak masalah karena begitulah sebagian cara masyarakat Poso-Morowali menikmati perdamaian. Dero menjadi arena persahabatan sekaligus perdamaian. lihat saja, dalam Dero, setiap orang bebas masuk ke dalam lingkaran. dan langsung menggandeng tangan orang di sebelahnya. tidak ada yang pernah menolak penggandengan tangan itu karena dero memang ajang untuk bergembira dan mencari sahabat tanpa peduli apa agamanya. Tari Dero ini juga disebut dengan Tari Pontanu, jenis tari pergaulan di mana para penonton diajak ikut menari dengan saling bergandengan tangan membentuk lingkaran. tarian asal Poso dan Morowali, Sulawesi Tengah itu selalu dilakukan pada setiap acara-acara pernikahan, pesta panen [Padungku] dan syukuran lainnya di Poso-Morowali. tari Dero itu masih tetap dipertahankan di beberapa kampung di Poso-Morowali hingga kini.
Be first to comment this article | Views: 99 | Cetak | E-mail |
|
Selengkapnya...
|
|
|
Ditulis Oleh Raimond F. Lamandasa, S.H., M.Kn.
|
|
Kamis, 10 Juli 2008 |
Syair lagu lama ini seakan merefleksikan perjalanan hidup kita yang penuh dengan dinamika, untuk meraih masa depan idaman kita, kita harus melewati perjuangan yang melelahkan, berpacu dengan waktu, tiada henti, tiada kenal kata putus asa... yah... demi cita-cita kita...
Moga makna dalam yang terkandung dalam lagu ini benar-benar meresap dalam sanubari kita semua... And now, the end is near
And so I face the final curtain
My friend, I'll say it clear I'll state my case, of which I'm certain
I've lived a life that's full I traveled each and ev'ry highway
And more, much more than this, I did it my way
Regrets, I've had a few But then again, too few to mention
I did what I had to do and saw it through without exemption
I planned each charted course, each careful step along the byway
And more, much more than this, I did it my way
Yes, there were times, I'm sure you knew When I bit off more than I could chew
But through it all, when there was doubt I ate it up and spit it out
I faced it all and I stood tall and did it my way
I've loved, I've laughed and cried I've had my fill, my share of losing
And now, as tears subside, I find it all so amusing
To think I did all that And may I say, not in a shy way,
"Oh, no, oh, no, not me, I did it my way"
For what is a man, what has he got? If not himself, then he has naught
To say the things he truly feels and not the words of one who kneels
The record shows I took the blows and did it my way! Yes, it was my way...
Komentar (4) | Views: 339 | Cetak | E-mail |
|
Selengkapnya...
|
|
|
Ditulis Oleh Raimond F. Lamandasa, S.H., M.Kn.
|
|
Minggu, 08 Juni 2008 |
|
Pernahkah terbersit dalam benak kita apa arti "sahabat" bagi kita? Orang-orang bijak berkata : jika kau memiliki uang dan harta yang banyak, pasti kau dikerubuti teman-temanmu. Tetapi pernahkah kita menguji motivasi mereka apa benar-benar murni? Sederhana saja mengujinya. Jika kau berada dalam masalah, dalam kesedihan, dalam kekurangan, saat kehilangan pekerjaan, saat terlilit perkara hukum, dsb masihkah mereka berada disekitarmu? Disitulah pembuktian sahabat sejati bagi kita. Berikut ini adalah coretan sederhana tentang sahabat, semoga bermanfaat bagi kita sekalian. Manusia Datang dan Pergi... Tapi Sahabat 'Kan Setia Menanti... Persahabatan Sejati Bagaikan Siklus Air... Tak'kan Berhenti Selamanya... Jika Engkau Menemukannya... Jaga dan Rawatlah Dia... Sebab Persahabatan Hanya Ada Untukmu... Setia Menanti dan Menemani Kala Suka atau Sedih... Tanpa Dia Engkau Akan Kesepian... dan Kau Akan Kehilangan Makna Hidup Ini... Jangan Kau Menganggap Sahabat Datang Hanya Untuk Pergi... Sebab Hanya Akan Membuatmu Hidup Penuh Kesepian dan Kesendirian... Komentar (8) | Views: 841 | Cetak | E-mail |
|
Selengkapnya...
|
|
|
Ditulis Oleh Raimond F. Lamandasa, S.H., M.Kn.
|
|
Kamis, 29 Mei 2008 |
|
A. Pendahuluan Dalam kehidupan sehari – hari, masyarakat memiliki kebutuhan – kebutuhan yang harus dipenuhi baik kebutuhan primer, sekunder maupun tersier. Ada kalanya masyarakat tidak memiliki cukup dana untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Oleh karenanya, dalam perkembangan perekonomian masyarakat yang semakin meningkat muncullah jasa pembiayaan yang ditawarkan oleh lembaga keuangan bank dan lembaga keuangan non bank. Lembaga perbankan merupakan salah satu aspek yang diatur dalam syariah Islam, yakni bagian muamalah sebagai bagian yang mengatur hubungan sesama manusia. Pengaturan lembaga perbankan dalam syariah Islam dilandaskan pada kaidah dalam ushul fiqih yang menyatakan bahwa “ maa laa yatimm al – wajib illa bihi fa huwa wajib “, yakni sesuatu yang harus ada untuk menyempurnakan yang wajib, maka ia wajib diadakan. Mencari nafkah ( yakni melakukan kegiatan ekonomi ) adalah wajib diadakan. Oleh karena pada zaman modern ini kegiatan perekonomian tidak akan sempurna tanpa adanya lembaga perbankan, maka lembaga perbankan ini pun menjadi wajib untuk diadakan. Oleh karena pada zaman modern ini kegiatan perekonomian tidak akan sempurna tanpa adanya lembaga perbankan, maka lembaga perbankan ini pun menjadi wajib untuk diadakan. Lembaga pembiayaan merupakan salah satu fungsi bank, selain fungsi menghimpun dana dari masyarakat. Fungsi inilah yang lazim disebut sebagai intermediasi keuangan (financial intermediary function).
Komentar (6) | Views: 1575 | Cetak | E-mail |
|
Selengkapnya...
|
|
|
Ditulis Oleh Raimond F. Lamandasa, S.H., M.Kn.
|
|
Jumat, 23 Mei 2008 |
 Beberapa waktu lalu, kita dikejutkan oleh pengumuman Transparency International (TI), sebuah lembaga terpercaya yang berpusat di Berlin - Jerman bahwa dalam peringkat negara-negara terkorup di dunia, Indonesia merupakan negara terkorup ketujuh. Kenyataan ini membuktikan bahwa upaya pemberantasan korupsi di Indonesia masih sangat jauh dari memuaskan. Masalah korupsi dan bagaimana cara mengatasinya sudah sangat banyak dibicarakan oleh para pengamat, penegak hukum, tokoh LSM, pejabat, pendidik dan juga pemimpin umat dari berbagai agama. Namun spirit reformasi yang digulirkan pada tahun 1998 ditandai dengan runtuhnya rejim Orde Baru, yang salah satu agenda pokoknya adalah “pemberantasan KKN”, ternyata gaungnya mulai meredup. Ironis, karena sampai sekarang belum ada tanda-tanda bahwa korupsi dapat dikurangi apalagi diberantas, Indonesia tetap bertengger sebagai salah satu negara terkorup di dunia. Korupsi sudah melanda negeri ini sejak lama dan dalam skala besar dan hampir merasuki semua aspek kehidupan. Ia terjadi di birokrasi, pengadilan, perbankan, BUMN, bantuan luar negeri, pendidikan, swasta dan lembaga keuangan. Korupsi berlangsung terus dalam bentuk yang lebih canggih, lebih merata, dan dilakukan secara terang-terangan, tanpa malu. Suatu kenyataan yang sangat memiriskan hati bahwa ditengah-tengah upaya Presiden SBY memberantas korupsi, yang terjadi justru korupsi semakin mengakar dan kronis. Sebut saja beberapa bukti yang menunjukkan tingkat korupsi di Indonesia yang begitu parah yang ditunjukkan oleh KPK – Komisi Pemberantasan Korupsi (Jawa Pos 7/11/2006) : Komentar (7) | Views: 704 | Cetak | E-mail |
|
Selengkapnya...
|
|
|